PAPUA INDAH DAN DAMAI

Menyuarakan kedamaian dan keindahan bumi Papua untuk bangsa ini...

Tanahku Papua

Papua, Indonesia kecilku...

Jayapura City

...ibukota Papua yang memikat di malam hari...

Festival Lembah Baliem

budaya luhur suku Dani, Lani, dan Yali sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan

Cenderawasih

burung khas Papua sebagai 'bird of Paradise'

Tawa Papua

potret dari keceriaan anak-anak di Papua

Raja Ampat

gugusan pulau yang indah dan exotic

Halaman

Kamis, 18 September 2014

PATROLI TNI/POLRI LUMPUHKAN OPM DAN AMANKAN SENJATA

Lumpuhkan 2 Orang OPM  dan Amankan Senjata
Senjata sitaan (sumber foto:Kodam Cenderawasih)
Jayapura - Pada 17 September 2014 pukul 12.30 WIT Tim gabungan TNI-Polri dan satuan Yonif 756/WMS dan 751/R serta Polri sedang melaksanakan patroli untuk melindungi masyarakat dan gangguan keamanan yang dilakukan oleh kelompok OPM. Ketika melintasi sekitar bandara Pirime tiba-tiba tim gabungan TNI-Polri ditembaki oleh kelompok OPM dan terjadilah kontak tembak di atas Bandara Pirime, Lanny Jaya. Dari hasil kontak tembak tim patroli gabungan TNI-Polri berhasil memukul mundur dan melumpuhkan anggota dari kelompok OPM dengan hasil 1 (satu) pucuk senjata jenis revolver dapat diamankan dan menewaskan 1 (satu) orang serta 1 (satu) orang lagi luka parah dari kelompok OPM. Setelah situasi mulai kondusif tim patroli gabungan melakukan pembersihan dan melanjutkan patroli dalam keadaan aman.

Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Drs. Christian Zebua, M.M dalam jumpa persnya menyampaikan himbauan kepada saudara-saudara kita yang masih berbeda paham untuk menghentikan kegiatannya meneror serta menakuti rakyat dan STOP KONFLIK. 

"Mari kita sama-sama bangun Papua dengan penuh rasa damai guna mewujudkan masyarakat Papua yang aman, damai dan sejahtera", ungkap Pangdam.

Sementara itu, pada hari ini juga di pos Komando Utama Yonif 623/BWU 10 (sepuluh) orang anggota yang dipimpin oleh Wakil Komandan Satgas (Wadan Satgas), Mayor Inf Andi Andriyanto Wibowo beserta Pasi Intel Satgas telah menerima penyerahan 2 (dua) pucuk senjata yang terdiri dari 1 (satu) pucuk senjata laras panjang jenis Mouser dan 1 (satu) pucuk senjata Pistol organik jenis Pietro Baretta dari kelompok Yan Orare di Distrik Skamto Arso 14. 

Kronologisnya kejadiannya sekitar pukul 08.15 WIT satu tim dari Satgas Yonif 623/BWU yang terdiri dari sepuluh orang anggota Komando Utama Satgas yang dipimpin oleh Wadan Satgas 623/BWU beserta satu orang masyarakat sebagai perantara bergerak dari Pos Komando Utama menuju lokasi yang sudah ditentukan untuk tempat pertemuan. 

Selanjutnya pada pukul 09.15 WIT tim sampai di sekitar lokasi setelah itu tujuh orang anggota tim yang dipimpin oleh Bintara Pelatih berhenti sekitar 75 meter dari lokasi tersebut untuk memberikan perlindungan terhadap Wadan Satgas dan Perwira Seksi Intelijen dalam rangka penerimaan senjata tersebut. Sekitar pukul 12.00 WIT Wadan Satgas, Perwira Seksi Intelijen beserta Komandan Seksi Intelijen maju ke lokasi kurang lebih 75 meter dari tempat anggota yang melaksanakan pengamanan untuk menerima senjata. Setelah itu bertemu dengan kelompok Yan Orare dan menerima senjata tersebut. Setelah menerima senjata, tim Satgas yang dipimpin oleh Wadan Satgas 623/BWU langsung meninggalkan lokasi menuju Pos Komando Utama dalam keadaan aman. 

Hal ini menunjukkan bahwa saudara-saudara kita yang berbeda paham mulai menyadari bahwa mereka tidak ada gunanya bertahan di hutan karena yang mereka inginkan sebenarnya hidup damai, aman dan sejahtera. (red)

Sumber: Kodam Cenderawasih

LUKAS ENEMBE BICARA PAPUA MERDEKA

14105227681954840878
Gubernur Papua, Lukas Enembe (red)
Jayapura - "Papua tidak akan bisa merdeka dan lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), karena semua orang tahu sejarah Papua itu adalah merdeka bersama Indonesia”

Itulah sepenggal kalimat yang diucapkan oleh Gubernur Provinsi Papua dalam acara Pisah Sambut Kapolda Papua 2014, dari Irjen Pol. Drs. M. Tito Karnavian, MA, PhD kepada Brigjen Pol. Drs. Yotje Mende, M.Hum di Aula Gubernur Provinsi Papua, Kamis, 11 September 2014.

Banyak orang mengetahui bahwa sejarah Papua itu adalah Merdeka bersama Indonesia. Namun masih juga ada sekelompok orang yang ingin memisahkan Papua dari Indonesia.

Enembe menjelaskan bahwa sekelompok orang itu adalah orang-orang yang tidak mengetahui akan sejarah. Sehingga mereka akhirnya terhasut oleh orang-orang yang memang menginginkan kemerdekaan Papua. Salah satu usaha yang mereka lakukan adalah dengan menyerukan boikot serta menyebarluaskan opini-opini negatif terhadap pemerintah melalui sosial media ke masyarakat.

Selain itu dalam amanat yang diberikannya dalam acara tersebut, Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe mengharapkan kepada seluruh masyarakat Papua yang ada di kota, pegunungan, dataran rendah, di pesisir untuk bisa memberi dukungan kepada Polri, memberi informasi kepada Polri untuk apapun aksi-aksi yang terjadi secara transparan, karena Papua ini baik, Papua ini damai dan dapat hidup berdampingan dengan semua orang dalam bingkai Indonesia.

“Dengan kerjasama yang baik dan kompak dengan Polsek dan Kodim-kodim yang ada di sekitar kita maka kita akan melindungi rakyat kita dari gangguan-gangguan keamanan”, tambahnya.

Enembe juga mengatakan dalam waktu dekat ini kita akan mengalami masa transisi dari pemerintahan SBY ke Jokowi. 

"Untuk kemungkinan kebijakan pemerintahan yang baru ini seperti apa terhadap Papua dapat kita nilai nanti, tetapi yang jelas apapun kebijakan yang dibuat oleh Bapak Jokowi kita akan mendukungnya", ungkapnya. (red)

Selasa, 26 Agustus 2014

PERSIPURA CATAT SEJARAH BARU PERTAMA KE AFC

Persipura
Jayapura – Klub Persipura menjadi tim pertama Indonesia yang melenggang ke semifinal turnamen Asian Football Confederation (AFC) usai membantai juara bertahan Al Kuwait pada pertandingan leg kedua dengan skor telah 6-1 atau agregat 8-4 di Stadion Mandala Jayapura, Selasa (26/8).

Enam gol Persipura dicetak oleh Robertino Pugliara (tiga gol), Boaz Solossa dan Titus Bonai dan Feri Pahabol. Gol hiburan tim tamu diciptakan Ali Alkandari.

Kalah 3-2 pada leg pertama di kandang Al Kuwait, Persipura yang tak ingin gagal di hadapan pendukung sendiri bermain menyerang sejak wasit asal China, Wang Di memulai laga.

Pertandingan baru berjalan dua menit, gelandang asal Argentina, Robertino Pugliara berhasil membawa tuan rumah unggul 1-0 memanfaatkan kemelut depan gawang lawan.

Tertinggal satu gol, Al Kuwait berusaha menyamakan skor. Namun usaha itu selalu terbentur kokohnya barisan belakang Persipura.

Juara AFC tiga kali itu kembali kebobolan menit ke 42 melalui tendangan Boaz Solossa dari luar kotak penalti. Pemain bernomor punggung 86 itu melepas sepakan kaki kiri melambung setelah melihat penjaga gawang lawan sedikit maju ke depan. Skor pun berubah 2-0.

Di penghujung babak pertama Persipura kian menjauh 3-0 lewat gol kedua Robertino Pugliara. memanfaatkan umpan Titus Bonai.

Di babak kedua, Persipura tak mengendurkan tekanan. Menit ke 52, sepakan kaki kiri Boaz masih bisa ditepis penjaga gawang Al Kuwit, namun bola rebound mengarah ke Titus Bonai yang berdiri bebas di sisi kiri gawang lawan. Tanpa kesulitan Tibo menceploskan bola ke gawang Al Kuwait dan merubah skor 4-0.

Menit ke 65, pemain pengganti Al Kuwait, Ali Alkandari memperkecil ketinggal menjadi 4-1. Namun skor itu tak bertahan lama, menit ke 66, Robertino Pugliara mencetak hatricknya di laga ini dan membawa Persipura menjauh 5-1.

Menit ke 68, wasit mengkartu merah pemai Al Kuwait, Fahad Homoud setelah melanggar penjaga gawang Yoo Jae Hoon. Seakan tak puas dengan lima gol, pelatih Persipura Jacksen F Tiago memasukkan Feri Pahabol mengganti Titus Bonai. Masuknya pemain ini kain menambah daya gedor Persipura. Hasilnya di masa tambahan waktu, gokl Feri Pahabol menjauhkan Persipura 6-1. Skor ini bertahan hingga laga usai. (red)

Susunan Pemain:

Persipura: Yoo Jae Joon, Bio Paulin/Dominggus Fakdawer, Yohanis Tjoe, Ruben Sanadi, Tinus Pae, Lim Junsik, Robertino Pugliara, Gerald Pangkali/Ian Kabes, Imanuel Wanggai, Titus Bonai/Ferinando Pahabol, Boaz Solossa (C)

Al Kuwait: Musab Alkandari, Fahad Awad, Leonardo Jesus/Shereedah Al Shereedah, Fahad Al Enezi, Chadi Hammami, Waleed Aly Huseen/Ahmad, Reza Ghoochannejhad, Rafael Bastos, Husain Hakim (C), Sami Alsanea, Fahad Homoud.

Minggu, 24 Agustus 2014

PATUNG YESUS DI MANSINAM

Peresemian Patung Yesus Kristus di Pulau Mansinam
Mansinam, Papua - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono tiba di Pulau Mansinam, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, pada Minggu (24/8/2014) pagi. Di Pulau Mansinam ini, Presiden SBY dijadwalkan meresmikan situs perkabaran Injil berupa Patung Yesus Kristus setinggi 30 meter.

Selain meresmikan situs Perkabaran Injil tersebut, Presiden SBY juga dijadwalkan akan meresmikan sejumlah proyek di Papua Barat, baik yang dibiayai APBD maupun APBN, termasuk pabrik Petrokimia di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Teluk Bintuni, yang telah dirancang sejak 2010 dengan basis industri Petrokimia.

Bagi SBY, kunjungan ke Manokwari ini merupakan yang kedua selama menjabat sebagai Presiden RI. Sebelumnya, pada 2009, Presiden SBY telah berkunjung ke Pulau Mansinam. Saat itu, SBY berjanji akan membantu pembangunan situs pekabaran injil ini, dengan harapan Pulau Mansinam menjadi daerah tujuan wisata religi, dan untuk mengenal nilai-nilai sejarah dan religi pada masyarakat Papua.
 
http://gkiditanahpapua.org/wp-content/uploads/2014/08/mansinam.jpg
Patung Yesus Kristus setinggi 30 m di Pulau Mansinam
Saat tiba di Pulau Mansinam, Presiden SBY disambut tari-tarian yang dilakukan oleh masyarakat setempat, sebagaimana saat Presiden tiba di Pantai Waisai Torang Cinta (WTC), Raja Ampat, Papua Barat, Sabtu (23/8/2014) pagi, untuk membuka Sail Raja Ampat 2014.

Peresmian situs perkabaran injil Patung Yesus Kristus itu, tampak dihadiri, antara lain, oleh Menko Perekonomian Chairul Tanjung, Menteri Perindustrian MS Hidayat, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menparekraf Mari Elka Pangestu, Mensesneg Sudi Silalahi, Sekretaris Kabinet Dipo Alam, Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya, dan Menteri Perhubungan EE Mangindaan.
 
SITUS PEKABARAN INJIL

Pulau Mansinam, Manokwari memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi masyarakat Papua, teristimewa umat Kristiani warga Gereja Kristen Injili di Tanah Papua. Dari pulau ini, untuk pertama kali Injil Yesus Krsitus diwartakan ke seluruh pelosok tanah Papua.

Pulau Mansinam adalah pulau yang terletak di Teluk Doreri, sebelah selatan kota Manokwari, dengan luas 410,97 Ha. Pulau Mansinam merupakan titik penting pekerjaan zending (misi) di Tanah Papua. Di Pulau ini, tepatnya 5 Februari 1855, dua orang zendeling-werklieden (utusan) dari Jerman, C.W. Ottow dan Johann Gottlob Geissler menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Papua.

Pulau Mansinam telah dikembangkan sebagai situs peradaban rakyat Papua. Situs ini terintegrasi dengan pembangunan fasilitas peribadatan yang lain. Pengembangan kawasan ini diarahkan sebagai pusat wisata budaya dan religi.

Patung Yesus setinggi 30 m ini juga menjadi bagian dari pengembangan situs Pulau Mansinam ini sebagai pusat peradaban budaya dan religi di Tanah Papua.

Patung Yesus ini berdiri tegak membentangkan tangan menghadap ke arah barat. Patung yang dicat putih ini berdiri di atas bangunan yang terdiri dari empat pilar dengan corak etnik khas Papua. Patung Yesus Kristus raksasa di Pulau Mansinam ini menjadi simbol tempat pertama kalinya penyebaran Injil dilakukan di Tanah Papua.

Pembangunan patung tersebut memakan waktu kurang lebih dua bulan. Tinggi patung sendiri mencapai 14,5 meter. Sementara pilar penyangganya mencapai 15 meter. Bahan-bahan yang digunakan untuk patung tersebut di antaranya lempengan baja, tembaga, kuningan dan timah. Bahan tersebut dirakit setelah konstruksinya telah siap digunakan.

Jika dilihat dari Kota Manokwari, patung Yesus tersebut terlihat jelas berdiri tegak di antara pepohonan. Pulau Mansinam sendiri dipisahkan oleh laut yang berjarak sekitar 6 km dari Kota Manokwari.

Sementara itu di sisi kiri patung Yesus, sekitar 10 meter, terdapat patung setinggi sekitar 3 meter. Patung perempuan yang memegang guci air ini terlihat sedang hendak menyiram sesuatu. Patung ini berdiri tegak di atas sebuah bongkahan batu besar. Ada cerita menarik dari bongkahan batu tersebut. Menurut informasi, batu tersebut tidak bisa dipecahkan atau digeser dari lokasi asalnya. Para pekerja sudah berusaha untuk memecahkan dan menggeser batu tersebut berulangkali, namun tetap tidak berhasil. Tidak ada yang tahu pasti mengapa batu tersebut berbeda dengan batu lainnya. Sehingga pihak panitia pembangunan akhirnya menempatkan patung perempuan tersebut di atas batu itu. (AK)

SAIL RAJA AMPAT 2014

http://www.setkab.go.id/media/gallery/2014/08/23/l/r/lre_5964.jpg
Presiden beserta Ibu Negara disambut di Sail Raja Ampat
Papua Barat - Sail Raja Ampat resmi telah dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, yang bertempat di pantai Waisai, Raja Ampat, Papua Barat pada Sabtu, 23 Agustus 2014.

Presiden beserta rombongan pejabat yang didampingi Kabinet Indonesia Bersatu jilid II disambut dengan Tari Batik Raja Ampat dan pergelaran batik khas Raja Ampat.

Acara sail Raja Ampat yang merupakan acara tahunan Sail di Indonesia tidak kalah meriahnya dengan acara sail-sail sebelumnya yang pernah diselenggarakan, seperti Sail Bunaken 2009, Sail Banda 2010, Sail Wakatobi – Belitung tahun 2011, Sail Morotai 2012, dan Sail Komodo pada tahun 2013.

Dalam Sail Raja Ampat ini diikuti oleh tak kurang dari 3.000 pengunjung dari seluruh Nusantara dan turis dari manca negara, seperti Malaysia, Australia, Belanda, Thailand, Filipina, Amerika Serikat, dll.
http://us.images.detik.com/customthumb/2014/08/23/10/081722_sby03.jpg?w=460
Sambutan Presiden SBY pada Pembukaan Sail Raja Ampat
Pada acara Pembukaan tersebut, Gubernur Abraham Atururi mengucapkan selamat datang di Raja Ampat kepada presiden SBY beserta para Menteri Indonesia Bersatu jilid II. Gubernur mengatakan berdasarkan keputusan Presiden No.10 tahun 2014, acara Sail Raja Ampat ini digelar. Gubernur juga menyampaikan apresiasi yang setinggi – tingginya bagi para pejabat yang ikut serta mensukseskan Sail Raja Ampat. Gubernur berharap warisan alam yang ada di Papua harus selalu dijaga dan tetap dilestarikan. Dengan begitu perkembangan kesejahteraan ekonomi masyarakat Papua akan menjadi semakin baik dan Raja Ampat menjadi destinasi utama pariwisata internasional.

Gubernur Papua Barat juga berharap agar Raja Ampat akan menjadi salah satu tujuan wisata dunia. Dalam hal ini, Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono juga menyampaikan bahwa saat ini Raja Ampat menjadi salah satu dari tujuh kawasan yang diusulkan sebagai Global Geopark United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Enam lainnya adalah Merangin di Kerinci, Sorolangun di Jambi, Pegunungan Sewu, Danau Toba, Pangandaran di Bandung Utara, dan Maros di Sulawesi Selatan.

Pelaksanaan Sail Raja Ampat ini sangat meriah karena menampilkan berbagai rangkaian kegiatan seperti Pelayanan Sosial Kesehatan dan Lingkar Nusantara IV Sailing, Desa Bangunan, Archipelago Youth Sailing, Yacht Rally, Seminar Nasional dan Internasional, Potensi Pengembangan Pariwisata, Kreatif Pengembangan Kebudayaan dan Ekonomi, Olahraga Laut, Pameran Potensi Daerah, dan lain-lain.

Dari jajaran Komando Armada Timur (Armatim) menampilkan 20 kapal perang untuk menyemarakkan kegiatan bahari level internasional ini. Salah satu armada yang mengawalinya adalah kapal Rumah Sakit (RS) terapung, KRI dr Soeharso.

Ada beberapa Kementerian/Lembaga yang turut serta sebagai anggota panitia Sail Raja Ampat ini, di antaranya yaitu Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Kementerian Pertahanan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Perumahan Rakyat, Kementerian Sosial, dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Pertahanan, TNI/Polri, serta Pemerintah Provinsi, Kota dan Daerah. (AK)

Sabtu, 23 Agustus 2014

PULAU MANSINAM SIMBOL HARMONISASI KRISTEN-ISLAM DI PAPUA

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhgOAekI3RMC5RgiJJTPQcqnLfnud43kFthjJVSvzALaNXFncCRGz5OacHlArYR3PRqU65rCYqRgSK4T1Z9OcRqIVKolxOQiEVIq0E2o3Bk0kCuzcKTAYc4tg1FJCKEvKTBLyJk6ECDoOpw/s1600/264332_1998327156180_1183552635_31914081_701736_n.jpg
Prasasti Patung Salib di Pulau Mansinam
Manokwari - Pulau Mansinam di Manokwari, Papua Barat menjadi tempat bersejarah bagi masyarakat Papua, sebab, di pulau inilah pertama kalinya ajaran Injil disebarkan oleh dua pendeta asal jerman, yaitu Carl William dan Goltlob Geisller (Ottow dan Geisller). 
 
Sebelum tiba di Pulau Mansinam, Ottow dan Geisller lebih dulu masuk ke Indonesia melalui Jakarta yang saat itu disebut Batavia pada 7 Oktober 1852. Kemudian pada 30 Mei 1854, mereka tiba di Ternate untuk belajar dan memperdalam bahasa melayu, serta belajar mengkaji berbagai informasi tentang Papua. Mereka kemudian menerima surat jalan dari Sultan Tidore yang merupakan salah satu kerajaan Islam di Nusantara. Sultan memberikan surat izin bagi mereka, bahkan memerintahkan kepada para kepala suku untuk melindungi dan menolong mereka jika mereka kekurangan makanan.
 
Pada tanggal 12 Januari 1855 bertolaklah mereka dari Dermaga Ternate, menumpang kapal menuju pulau tujuan mereka Mansinam. Setelah melewati perjalanan laut selama 25 hari, pada 5 Februari 1855 kapal mereka berlabuh di Teluk Doreri. Peristiwa iinlah yang menjadi sebuah nilai toleransi antara umat Muslim dan Kristiani saat itu, sehingga Pulau Mansinam menjadi simbol harmoni dan toleransi umat beragama yang sudah dibangun sejak dulu.
 
Toleransi beragama inilah yang bisa dijadikan contoh bagi masyarakat baik nasional ataupun internasional, juga sebagai sarana pendidikan bagi generasi muda baik di Tanah Papua maupun di Indonesia. Bahwa toleransi sudah dibangun di Tanah Papua sejak lama oleh Saudara-Saudara Muslim dan Kristiani.
 
Di tanah pertama yang mereka injakkan kaki di Pulau Mansinam, dibangunlah sebuah prasasti sebagai simbol kedatangan mereka. Di lokasi ini terdapat sebuah Prasasti Salib besar setinggi kurang lebih 6 meter. Di belakangnya terdapat relief gambar-gambar yang menceritakan soal kedatangan mereka yang disambut oleh warga setempat. 
 
Ada juga empat patung perunggu keduanya yang masing-masing menghadap ke laut dan ke arah Salib. Di bagian bawah kaki prasasti, terdapat tulisan tangan mereka yang tertulis 'Soli deo Gloria. De Eerste Zendelingen van Nederlandsch Nieuw Guinee C.W. Ottow En J.G. Geissler Zyn Hier Geland op 5 Februari 1855'. Di sisi lainnya, ada terjemahan dalam bahasa lokal. Artinya, kurang lebih, Zending pertama untuk Papua Ottow-Geissler tiba di sini 5 Februari 1855. (AK)

http://mariamokiri.files.wordpress.com/2009/11/tulisan-tugu-salib.jpg?w=468
Tulisan pada Prasasti Salib


Rabu, 20 Agustus 2014

PRESTASI TOKOH PAPUA


Nicholas Jouwe
Nicolaas Jouwee
Di antara jajaran 55 para penerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera dan Bintang Jasa di Istana Negara, Rabu (13/8), terdapat salah satu pendiri Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang telah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, yaitu Nicolaas Jouwe.

Tanda Kehormatan ini diberikan setiap tahun kepada mereka yang telah berjasa kepada bangsa dan negara sebagai bagian dari rangkaian agenda memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus.

Meski menggunakan kursi roda, lelaki yang dikenal sebagai pencipta bendera kebesaran OPM, Bintang Kejora, tampak khidmat mengikuti upacara penganugerahan tersebut.

Lagu kebangsaan Indonesia Raya yang berkumandang di Istana Negara, menambah khidmat upacara.

Nicolaas Jouwe tidak sendiri, ada dua teman-teman seperjuangnnya yang juga mantan OPM turut menerima tanda penghargaan Bintang Jasa Nararya di Istana Negara tersebut. Nicholas Simion Messet dan Frans Albert Yoku, yang kini menyerukan perdamaian dan rekonsiliasi di Papua dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Penghargaan ini luar biasa,” kata Nicolaas Jouwe yang kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi pada tahun 2010 lalu.

Jouwe terlahir di Jayapura pada 24 November 1923. Dikutip dari Wikipedia, ia menjadi politisi Papua yang terpilih sebagai wakil presiden dari Dewan Nugini yang mengatur koloni Belanda, Nugini Belanda kala itu.

Setelah koloni tersebut diserahkan ke UNTEA pada Oktober 1962 dan enam bulan kemudian diserahkan ke Indonesia, Jouwe meninggalkan Papua dan pergi ke Belanda. Namun pada 2010, Jouwe memutuskan kembali ke Indonesia dan bergabung kembali dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar kala itu menyerahkan secara langsung Surat Keputusan (SK) Kewarganegaraan Indonesia Nicolaas Jouwe, Gedung Negara yang dihadiri Menko Kesra Agung Laksono, pada 15 Mei 2010.

“Di Papua kami dibodohi oleh Belanda. Selama 120 tahun rakyat Papua kita tidak boleh sekolah, tidak boleh belajar. Kami beruntung karena Tuhan melindungi kami, sehingga Indonesia datang,” katanya seusai menerima tanda kehormatan di Istana Negara, Rabu, saat menyatakan alasannya kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Nicolaas Jouwe kini telah berusia 90 tahun lebih. Pendengarannya tidak begitu sempurna. Dengan alat bantu pendengaran, Jouwe masih dapat mendengarkan meskipun butuh suara yang lebih keras dari biasanya.

Namun meski usia tidak lagi muda, semangat dan daya ingat Nicolaas Jouwe masih mumpuni.

Ia bercerita, dirinya mendengarkan hampir seluruh pidato Pendiri Bangsa dan Presiden Pertama Indonesia Soekarno.

Pidato Bung Karno di Markas Besar PBB, Amerika Serikat, mampu menggugah dirinya. Ia pun bercerita, dirinya satu-satunya delegasi dari Belanda yang berdiri saat Pidato Bung Karno usai.

“Tak terasa air mata saya meleleh,” katanya mengenang masa itu.

Ia kemudian menegaskan kembali bahwa Papua merupakan bagian integral Indonesia. Bersama-sama dengan daerah lainnya bergerak membangun menjadi masyarakat yang sejahtera.

“Papua maju, Papua mundur sama-sama dengan Indonesia. Kita ini satu, satu waktu dunia akan melihat,” katanya.

Sejak kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi pada 2010, Nicolaas Jouwe tak henti-hentinya menegaskan dan mengkampanyekan Papua merupakan bagian integral dari Indonesia yang tak terpisahkan. Ia pun juga meminta OPM untuk turun gunung bergabung dalam NKRI.

Indonesia dinilai bisa mewujudkan mimpi-mimpi Papua yang cerdas, maju dan sejahtera bersama daerah-daerah lainnya.

“Selama 120 tahun, oleh Belanda kita hidup di zaman batu, dijajah, ditindas, karena Belanda tahu, Papua kaya,” katanya.

Ia menilai, mereka yang ada di hutan-hutan mengangkat senjata saat ini tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Menurut dia OPM saat ini tidak relevan.

Kini kesempatan membangun Papua itu ada. Kedua belah pihak, baik pemerintah pusat maupun daerah harus bersatu padu untuk menyejahterakan rakyat Papua.

Namun demikian ia masih punya satu keinginan, yaitu mengunjungi daerah-daerah di Indonesia selain Jawa.

“Indonesia bukan hanya Jawa, saya ingin keliling,” katanya. Satu-satunya tempat luar Jawa yang pernah ia kunjungi adalah Balikpapan, saat ia mendengarkan pidato Bung Karno secara langsung. (red)