PAPUA INDAH DAN DAMAI

Menyuarakan kedamaian dan keindahan bumi Papua untuk bangsa ini...

Tanahku Papua

Papua, Indonesia kecilku...

Jayapura City

...ibukota Papua yang memikat di malam hari...

Festival Lembah Baliem

budaya luhur suku Dani, Lani, dan Yali sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan

Cenderawasih

burung khas Papua sebagai 'bird of Paradise'

Tawa Papua

potret dari keceriaan anak-anak di Papua

Raja Ampat

gugusan pulau yang indah dan exotic

Halaman

Senin, 06 Januari 2014

Tukang Ojek Tewas Ditembak di Puncak Jaya



Pasca penyerangan dan pengambilan 8 senjata anggota polisi di Puncak Jaya, Papua Sabtu (4/1) akhir pekan lalu, penembakan kembali menelan korban pada Selasa (7/1) pagi.

Dari info yang diperoleh, sekitar pukul 8.30 WIT terjadi penembakan terhadap tukang ojek bernama Abdul Halil (43) di sekitar SMA Wuyuneri Distrik Mulia

Warga sipil tersebut tertembak di bagian kepala. Peluru menyasar dari belakang hingga menembus mata kanan. Selain itu, tukang ojek tersebut ditembak juga dari samping rusuk sebelah kanan.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Sulistyo Pudjo saat dikonfirmasi pada pukul 10.34 WIT membenarkan kejadian tersebut.

"Iya benar ada kejadian penembakan terhadap tukang ojek di Puncak Jaya. Kondisi korban dipastikan tewas dan saat ini sudah dievakuasi ke RS setempat,"ujar Kabid Humas.

Penembakan terus saja terjadi setelah aksi penyerangan Pos Polisi di Kulirik. Serangakaian penembakan ini dapat dipastikan dilakukan oleh kelompok OPM yang sering melakukan aksi di Puncak Jaya. (fars)

OPM SERANG POS POLISI

Kelompok OPM

Sabtu 4/1/13 sekitar pukul 16.00 WIB telah terjadi penyerangan terhadap Pos Polisi yang berada di daerah Kulirik, Puncak Jaya, Papua. Penyerangan ini didalangi oleh Telenggen bersaudara yaitu Leka dan Tengamati Telenggen yang berasal dari kelompok Yambi pimpinan Goliat Tabuni. Menurut Kabid Humas Polda Papua AKBP Sulistio Pudjo saat dikonfirmasi, pada saat itu 5 personel polisi yang sedang bertugas di Pos tersebut sedang melaksanakan patroli rutin dan sebagian kekuatan ada yang turun ke pasar untuk menambah logistik di pos, sementara sisanya 2 orang bertugas sebagai jaga pos.

Sebelum memulai aksinya, kelompok Yambi ini sudah menyebar (mengepung) dan mengamati situasi di Pos Polisi tersebut. Melihat pos tersebut sepi, maka salah satu anak buah dari Tengamati Talenggeng berpura-pura meminta makan dan bersilaturahmi kepada anggota polisi yang sedang bertugas jaga pos saat itu. Karena Polisi merupakan pengayom dan pelindung masyarakat maka anak buah Talenggeng tersebut mendapat makanan yang di berikan oleh 2 anggota yang polisi yang sedang berjaga. Saat 2 orang polisi lengah saat itu pula gerombolan OPM (Organisasi Papua Merdeka) yang didalangi talenggeng ini menyerang masuk dan merebut 8 pucuk senjata api milik anggota Pos Polisi. Mengetahui kalah jumlah, 2 orang anggota polisi menyelamatkan diri dengan melompat ke sungai yang berada dekat pos, maka dengan leluasa kelompok OPM ini menyikat 8 pucuk senjata yang di antaranya adalah : 5 SS1, 1 Mouser dan 2 AK serta membawa 135 amunisi yang ada.

Dengan adanya kejadian tersebut maka pihak Kepolisian dibantu personel TNI-AD dari Kodim 1714/Puncak Jaya dan Yonif 753/AVT yang dipimpin langsung Dandim 1714/Puncak Jaya, Letkol Inf Ahmad Risman, segera turun langsung ke lapangan guna mem-backup aparat dari Polda Papua, dalam melakukan pengejaran terhadap kelompok OPM tersebut. Pengejaran kemudian dihentikan karena cuaca yang tidak mendukung akibat hujan deras dan berkabut sehingga menghalangi jarak pandang. Sebelumnya sempat terjadi tiga kali baku tembak selama sekitar 60 menit. Atas pertimbangan cuaca buruk dan kondisi medan yang sangat terlajal, maka diputuskan untuk kembali ke Pospol Kulirik guna melakukan konsolidasi. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, “Pelaku sempat menembaki aparat yang melakukan pengejaran” ungkap Sulistio.

Aktivitas kelompok Yambi telah membuat situasi Puncak Jaya tidak kondusif, selain itu berbagai aksi yang meresahkan masyarakat Papua telah mereka lakukan seperti kejadian penembakan Pos TNI di Yambi, pada Jumat (21/5/2010) malam sekitar pukul 20.00 WIT sehingga menyebabkan dua anggota TNI terluka. Pada 24 Oktober 2011 Kepala KP3 Mulia yang tewas ditembak ketika menjalankan tugas sebagai Komandan KP3 Mulia. Penembakan 2 tukang ojek pada Kamis (2/2/2012), 2 Orang mengalami luka tembak dan 2 selamat, dan masih banyak kekerasan dan teror terhadap masyarakat yang dilakukan kelompok OPM Yambi.

Menurut pengakuan salah satu rakyat Papua yang tinggal di lokasi tersebut aksi yang penyerangan yang dilakukan kelompok OPM ini sangat membuat masyarakat Puncak Jaya Papua trauma, pasalnya mereka membawa kabur 8 senjata milik Polisi beserta amunisinya yang pasti akan di gunakan untuk membunuh dan meneror masyarakat di Puncak Jaya.

Demikian pula segmen perekonomian penduduk setempat akan berpengaruh, terutama lajuran pasokan kebutuhan pokok masyarakat ke wilayah Puncak Jaya akan tersendat. Para supir enggan melewati jalur Puncak Jaya akibat sering diganggu dan ditembaki oleh kelompok OPM Yambi. Dengan tersendatnya pasokan kebutuhan pokok dari luar maka harga barang-barang yang menjadi kebutuhan sehari-hari naik sangat mahal, di samping jarak jangkuan wilayah yang jauh dari perkotaan dan harus ditempuh dengan jalur transportasi udara serta jalur darat yang susah dan rawan.

“Kami ingin Kelompok OPM yang sudah merampas senjata milik Polisi dikembalikan agar kami bisa hidup tenang” ujar salah satu warga yang juga menjadi salah satu saksi mata dalam penyerangan OPM tersebut



Jumat, 03 Januari 2014

MASYARAKAT PAPUA BANGGA SEBAGAI NKRI

Penyerahan diri OPM
Pemerintah Republik Indonesia menetapkan 1 Mei sebagai Hari Kembalinya Irian Barat Ke NKRI. Dalam sejarah tercatat bahwa pada tanggal 1 Mei 1963, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengembalikan Irian Barat ke pemerintah Republik Indonesia disertai dengan syarat bahwa rakyat Irian Barat harus diberi kesempatan untuk menentukan sendiri nasib mereka apakah akan bergabung dengan NKRI atau membentuk negara sendiri sebelum akhir tahun 1969. Sesuai dengan syarat tersebut, Pemerintah Indonesia melaksanakan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969. Hasil Pepera menunjukkan keinginan mutlak rakyat Irian Barat untuk bergabung dengan NKRI. Keabsahan Pepera juga diakui dunia dengan keluarnya Resolusi PBB nomor 2504 pada Sidang Umum PBB 19 November 1969. Dalam sidang itu, 82 negara setuju, 30 negara abstain dan tidak ada yang menyatakan tidak setuju atas keabsahan Pepera Papua.

Seiring dengan kembalinya Papua ke NKRI, muncul pula sebuah gerakan yang menamakan diri sebagai Organisasi Papua Merdeka (OPM). Tujuan organisasi ini adalah secara gamblang ingin melepaskan diri dari NKRI. Wujudnya adalah dengan melakukan teror-teror bersenjata terhadap pemerintah, TNI/Polri maupun masyarakat sipil. Hal ini sangat jelas mengganggu kemanan dan ketertiban serta proses pembangunan di Papua. Ulah kelompok ini sangat meresahkan masyarakat sehingga keberadaanya tidak diterima masyarakat. Aparat pemerintah, dalam hal ini Polri dengan dibantu TNI giat melaksanakan patroli dan pengamanan di daerah-daerah di mana OPM beraksi dan tidak segan-segan menumpas mereka yang bersenjata. Karena posisinya semakin terdesak, kelompok separatis ini memindahkan basis ke hutan dan gunung, terutama di daerah Puncak Jaya.

Awalnya banyak masyarakat yang ikut “berjuang” dan rela hidup menderita di gunung dan hutan karena bujuk rayu dan janji-janji manis sang pemimpin kelompok, Goliath Tabuni. Mereka dijanjikan sebuah kemerdekaan dan kesejahteraan setelah merdeka. Ditambah dengan penguatan isu rasis yang menyatakan bahwa mereka adalah ras Melanesia yang berbeda dengan penduduk Indonesia di daerah lain, semakin membuat mereka percaya. Padahal dengan latar belakang sejarah yang valid, sudah jelas dan mutlak bahwa Papua sudah merdeka dalam bingkai NKRI. Konsep NKRI pun dengan tegas menyatakan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan dengan keanekaragaman suku dan budaya yang mewajibkan tiap orang saling menghormati. Jadi ras apapun, apakah itu Melayu, Jawa, Aceh, Maluku, Papua dan yang lainnya adalah satu kesatuan bangsa Indonesia.

Semakin intensnya pemerintah dalam membangun Papua membuat anggota kelompok separatis semakin sadar bahwa apa yang mereka perjuangkan selama ini adalah salah dan sia-sia. Tindakan mereka selama ini justru malah menghambat pembangunan di Papua. Dengan kebulatan tekad dan kesadaran yang tinggi akhirnya mereka membelot dari “komandan” Goliath Tabuni dan turun gunung untuk berbaur dengan masyarakat. Mereka pun akhirnya mengakui kembali bahwa Papua adalah bagian tak terpisahkan dari NKRI. Seperti yang diberitakan oleh harian Cenderawasih Pos terbitan 19 Desember 2013 dengan judul “Seratus Anggota OPM Turun Gunung”. Dalam berita tersebut disampaikan alasan mereka turun gunung adalah karena sudah sangat bosan tinggal di hutan selama bertahun-tahun dan merasa terbohongi dengan janji-janji manis pimpinan OPM yang tidak bertanggung jawab.

Berita ini disambut hangat oleh pemerintah Kabupaten Puncak Jaya yang selama ini mengalami hambatan yang besar dalam melaksanakan pembangunan karena kekacauan yang sering ditimbulkan oleh mereka. Para pimpinan TNI/Polri sangat merespon positif kabar ini. Hal ini juga sesuai dengan himbauan pemerintah selama ini, tokoh agama, tokoh masyarakat agar mengajak masyarakat yang menuntut merdeka untuk kembali ke pangkuan NKRI dan menyerahkan senjata yang mereka miliki. Tetapi apabila mereka tetap menggunakan senjata untuk mengacaukan tatanan hidup masyarakat, maka bersiap-siaplah untuk ditumpas oleh TNI/Polri.

Senin, 23 Desember 2013

PAHLAWAN NASIONAL ASAL PAPUA


Pahlawan Nasional

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau mengenang dan menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Ungkapan inilah yang selalu dikatakan jika menjelang hari pahlawan yang selalu diperingati setiap tanggal 10 Nopember.

Banyak pemuda modern saat ini lupa akan hal itu, mereka terlalu sibuk dengan teknologi yang berkembang dengan pesat saat ini. Ditambah lagi usaha-usaha pengaburan sejarah Papua oleh segelintir orang yang berkeinginan memisahkan Papua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sesuai tujuan yang telah dijelaskan tadi, “agar kita dapat menjadi bangsa yang besar”, marilah kita bersama-sama mengenal pahlawan nasional Indonesia khususnya yang berasal dari Papua. Inilah keempat pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Papua:

1. Marthen Indey (lahir di Doromena, Jayapura, Papua, 14 Maret 1912 dan meninggal di Doromena, Jayapura, Papua, 17 Juli 1986 pada umur 74 tahun) pada bulan Oktober 1946 beliau menjadi ketua PIM (Partai Indonesia Merdeka) dan bersama 12 kepala suku lainnya menyampaikan protes kepada pemerintah Belanda yang berusaha memisahkan Irian Barat dari Republik Indonesia. Pada bulan Januari 1962, ia menyusun kekuatan gerilya dan membantu menyelamatkan beberapa anggota RPKAD yang didaratkan di Irian Jaya selama Trikora.

2. Silas Papare (lahir di Serui, Papua, 18 Desember 1918 meninggal di Serui, Papua, 7 Maret 1973 pada umur 54 tahun) adalah seorang pejuang penyatuan Irian Jaya (Papua) ke dalam wilayah Indonesia. Pada bulan Oktober 1949, beliau mendirikan Badan Perjuangan Irian di Yogyakarta dalam rangka membantu pemerintah Republik Indonesia untuk memasukkan wilayah Irian Barat ke dalam wilayah RI.

3. Frans Kaisiepo (lahir di Wardo, Biak, Papua, 10 Oktober 1921 meninggal di Jayapura, Papua, 10 April 1979 pada umur 57 tahun) terlibat dalam Konferensi Malino tahun 1946 yang membicarakan mengenai pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai wakil dari Papua. Ia mengusulkan nama Irian, kata dalam bahasa Biak yang berarti beruap.
4. Mayor TNI Johannes Abraham Dimara (lahir di Korem, Biak Utara, Papua, 16 April 1916 meninggal di Jakarta, 20 Oktober 2000 pada umur 84 tahun) turut menyerukan seluruh masyarakat di wilayah Irian Barat supaya mendukung penyatuan wilayah Irian Barat ke dalam pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1962.

Itulah keempat Pahlawan Nasional yang berasal dari Papua yang patut kita kenang dan kita hargai jasa-jasanya karena telah berjuang mempertahankan Indonesia dari penjajahan Belanda, khususnya di Papua.




Kamis, 19 Desember 2013

KEUNIKAN KOTA JAYAPURA


Kota Jayapura 
Jayapura merupakan ibu kota Provinsi Papua, sebuah kota yang terletak di ujung paling timur Indonesia ini menyimpan beberapa keunikan yang tidak kita jumpai di kota-kota lain di Indonesia. Berikut ini adalah hal-hal unik dan patut Anda perhatikan jika berkunjung ke Jayapura.

1. Dilarang Makan Pinang

Jika di setiap sudut kota besar kita selalu melihat tulisan atau simbol dilarang merokok, lain halnya di Jayapura. Bukan bermaksud menyebutkan bahwa tanda larangan merokok itu tidak ada, tetapi ada keunikan tersendiri di Jayapura. Tanda larangan merokok tersebut selalu bersandingan dengan tanda larangan makan pinang. Hal ini dikarenakan kebiasaan masyarakat Jayapura yang sering makan buah pinang yang dicampur dengan batang sirih dan kapur, di mana mereka meyakini akan menyebabkan gigi kuat kelak. Dan larangan ini lebih kepada larangan agar tidak memakan dan membuang sisa pinang tersebut sembarangan, terutama di tempat umum.

2.    Taksi kota
Banyak perantau dari Jawa dan Sulawesi bingung jika dijelaskan tentang angkutan kota yang ada di Kota Jayapura. Bagaimana tidak, angkutan kota yang secara umum disebut “Angkot” di daerah lain tidak sama dengan penyebutan masyarakat Jayapura. Masyarakat setempat menyebutnya dengan “Taksi” yang kenyataannya adalah angkutan kota.

3.    Depan Ada
“Kiri bang” . . . begitu lah umumnya di daerah Jawa untuk menghentikan angkutan umum atau memberitahu supir bahwa kita sudah sampai tujuan. Lain halnya di Jayapura, ungkapan itu tidak berlaku. Masyarakat Kota Jayapura menggunakan kata “Depan” atau “Depan Ada” untuk memberitahu supir bahwa kita telah sampai di tempat tujuan.

4.    Nasi Kuning
Setiap daerah di Indonesia pada umumnya selalu memiliki makanan khas yang sering disebut “wisata kuliner” bagi para pecinta makanan. Di jayapura memiliki keunikan tersendiri yaitu Nasi Kuning. Nasi kuning yang biasa dibuat untuk acara syukuran di daerah lain tapi tidak di Jayapura. Hampir disetiap sudut Kota Jayapura, khususnya pada waktu malam hari menjajakan nasi kuning.

5.    Tanpa Pengamen
Pengamen sudah menjadi pemandangan sehari-hari perempatan, terminal bahkan sampai di rumah ke rumahpun selalu ada pengamen. Tapi di Jayapura hal tersebut sama sekali tidak pernah ditemui. Walau sampai saat ini tidak diketahui apa penyebabnya. Itulah yang menjadikannya sesuatu yang unik.

6.    Tanpa Pengemis
Tanpa pengemis mungkin sebutan selanjutnya yang memberikan keunikan tersendiri bagi Kota Jayapura. Suatu hal yang dengan mudah ditemui di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya tapi tidak di Jayapura.

7.    Malam Hongkong Siang Kebun Singkong
Siapa yang belum mengetahui indahnya kota Jayapura? Mungkin sudah banyak yang mengetahui. Apalagi jika kita melihatnaya pada malam hari, gemerlapan lampu-lampu yang menghiasi kota ini membuatnya bagaikan kota Hongkong. Namun jika dilihat pada siang hari nampaklah susunan tata ruang kota yang kurang begitu rapi di mana terdapat banyak sekali pemukiman penduduk di kaki bukit hingga ke puncaknya yang boleh dibilang menyerupai kebun singkong. Belum adanya penertiban yang dilakukan pemerintah Kota Jayapura membuat pertumbuhan pemukiman ini begitu pesat hingga Kota Jayapura menjadi rawan akan bencana longsor dan banjir.

8.    Jam 21.00 Sudah sepi
Pembangunan di Kota Jayapura yang terbilang dapat disejajarkan dengan kota besar lainnya di Indonesia tak membuat masyarakatnya terlalu terpengaruh oleh berkembang biaknya tempat-tempat hiburan malam dan rekreasi belanja yang bermunculan di Jayapura. Kendatipun demikian secara umum kota Jayapura berangsur sepi jika sidah menunjukan pukul 21.00 WIT.

9.    Penunggu Lift
Moderenisasi yang dilakukan para investor lokal maupun asing di Jayapura berkembang seiring kemajuan zaman. Pembangunan Hotel berbintang dan Pusat perbelanjaan berkelas internasional contohnya. Namun bukan Jayapura namanya jika tidak memberikan keunikan tersendiri dibanding kota –kota lainnya. Jika kita mengunjungi pusat perbelanjaan di Jayapura kita akan sedikit terkejut saat memasuki sebuah lift karena ada petugas khusus yang ditugaskan sebagai operator lift tersebut.

10.    Tahun Baru
Pesta kemeriahan tahun baru yang selalu dinantikan setiap tahunnya merupakan keunikan berikutnya. Memang hampir setiap kota memiliki acara dan tradisinya masing-masing. Namun di Jayapura, keunikannya terletak pada kebiasaan masyarakat Jayapura yang hampir dapat dipastikan setiap rumah pasti membeli kembang api dan terkadang sampai menghabiskan uang ratusan juta rupiah. Sampai sampai pada jam pergantian tahun, kota Jayapura diselimuti asap tebal akibat banyaknya orang yang menyalakan kembang api. Datanglah ke Jayapura pada saat tahun baru dan buktikan sendiri keunikan tersebut.

11.    Idul Fitri dan Hari Natal
Kota Jayapura yang kini menjadi tujuan perantauan dan wisata baik dalam maupun luar negeri membuat masyarakatnya saling berinteraksi khusunya dalam hal keyakinan. Di kota ini, toleransi umat beragamanya sangat terlihat dari keseharian penduduknya. Saling mengunjungi antar tetangga, saudara, kerabat dan rekan pun menjadi hal yang biasa. Namun uniknya adalah anak-anak Jayapura pada umumnya, mereka berkunjung ke setiap rumah yang dilewatinya tanpa harus mengenali sang pemilik rumah tersebut hanya untuk mengucapkan Selamat Idul Fitri atau Selamat Natal.

12.    Libur Papua

Siapa yang tidak suka dengan hari libur? Tentunya semua menyukainya, karena kita dapat memiliki waktu lebih bersama keluarga ataupun teman dekat. Di Jayapura yang merupakan Ibu Kota Provinsi Papua ini terdapat hari libur khusus Papua yaitu hari libur tambahan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Papua untuk menghormati masyarakat Papua yang mayoritas beragama Kristen.

Demikian beberapa keunikan Kota Jayapura yang mungkin saja sulit ditemui di kota lain di Indonesia. Sekarang apakah anda tertarik untuk membuktikannya sendiri? Semoga informasi ini dapat menambah pengetahuan anda khususnya bagi yang pertama kali menginjakkan kakinya di Jayapura.

Rabu, 11 Desember 2013

ASAL USUL PAPUA


Perkembangan asal usul nama pulau Papua memiliki perjalanan yang panjang seiring dengan sejarah interaksi antara bangsa-bangsa asing dengan masyarakat Papua, termasuk pula dengan bahasa-bahasa lokal dalam memaknai nama Papua.

Provinsi Papua dulu mencakup seluruh wilayah Papua bagian barat. Pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, wilayah ini dikenal sebagai Nugini Belanda (Nederlands Nieuw-Guinea atau Dutch New Guinea). Setelah berada bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, wilayah ini dikenal sebagai Provinsi Irian Barat sejak tahun 1969 hingga 1973. Namanya kemudian diganti menjadi Irian Jaya oleh Soeharto pada saat meresmikan tambang tembaga dan emas Freeport, nama yang tetap digunakan secara resmi hingga tahun 2002.

UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua mengamanatkan nama provinsi ini untuk diganti menjadi Papua. Pada tahun 2003, disertai oleh berbagai protes (penggabungan Papua Tengah dan Papua Timur), Papua dibagi menjadi dua provinsi oleh pemerintah Indonesia; bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian baratnya menjadi Provinsi Irian Jaya Barat (setahun kemudian menjadi Papua Barat). Bagian timur inilah yang menjadi wilayah Provinsi Papua pada saat ini.