PAPUA INDAH DAN DAMAI

Menyuarakan kedamaian dan keindahan bumi Papua untuk bangsa ini...

Tanahku Papua

Papua, Indonesia kecilku...

Jayapura City

...ibukota Papua yang memikat di malam hari...

Festival Lembah Baliem

budaya luhur suku Dani, Lani, dan Yali sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan

Cenderawasih

burung khas Papua sebagai 'bird of Paradise'

Tawa Papua

potret dari keceriaan anak-anak di Papua

Raja Ampat

gugusan pulau yang indah dan exotic

Halaman

Rabu, 10 Desember 2014

PERNYATAAN MENKO POLHUKAM TENTANG PANIAI

Menko Polhukam Tedjo Edhy. MI/Panca Syurkani
Menko Polhukam (red)

Jakarta - Menko Polhukam Tedjo Edhi Purdjiatno tidak mau aparat keamanan terus-menerus disalahkan dalam kasus kerusuhan di Papua. Menurutnya, selalu ada kemungkinan ada pihak ketiga yang terlibat, seperti kasus di Paniai.

Menurut laporan sementara hasil investigasi, ada peluru yang tidak mungkin datang dari arah aparat di lapangan. Temuan itu kini sedang didalami.

"Menurut KSAD ada tembakan dari atas, ini perlu dilihat," ujar Tedjo di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Rabu (10/12/2014).

Bila melihat kondisi di lapangan saat terjadinya bentrok, peluru yang aparat lepaskan pasti datangnya dari arah samping korban. Tidak mungkin peluru datang dari atas sebab posisi aparat dan korban sejajar.

"Pasti akan ada investigasi dari mana pelurunya," sambungnya kepada pers yang mencegatnya usai melepas Presiden Jokowi bertolak ke Korea.

Tedjo juga memastikan kondisi saat ini di Paniai, Papua, sudah kembali kondusif. Panglima TNI melaporkan sudah ada upaya-upaya pendekatan dengan keluarga para korban untuk menyelesaikan kasus dengan cara terbaik.

"Penyelesaiannya dengan acara adat, misalnya dengan membakar batu itu. Kami akan selesaikan masalah ini dengan sebaik-baiknya. Jangan terus salahkan aparat," imbuhnya.

Sebelumnya, pada Minggu (7/12/2014), terjadi bentrok antara warga dan aparat keamanan di Paniai. Akibatnya, beberapa orang tewas tertembus timah panas. (red)

Selasa, 09 Desember 2014

POLRI TUDING ADA DALANG RUSUH PANIAI

Keterangan Pers Kombes Pudjo (red)
Jayapura – Pihak kepolisian belum bisa memastikan penyebab kabar tewasnya empat orang warga Kabupaten Paniai, Papua ketika terjadi kerusuhan di wilayah itu, Senin (8/12) pagi.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Papua, Kombes (Pol) Sulistyo Pudjo mengatakan, informasi yang beredar ada empat warga setempat yang belum diketahui identitasnya, tewas akibat terkena tembakan.

“Tapi belum bisa dipastikan. Apakah benar terkena tembakan atau apa, karena sempat terjadi baku pukul antar warga di sekitar area pohon Natal, Enarotali sekira pukul 20.00 WIT. Waktu itu sempat terdengar suara tembakan. Kalaupun kena tembakan harus dilakukan otopsi untuk memastikan itu pelurunya dari senjata siapa,” kata Kombes (Pol) Pudjo, Senin (8/12) petang.

Menurutnya, kerusuhan di wilayah itu berawal dari salah paham antar masyarakat di Pondok Natal, Gunung Merah. Kala itu, seorang pengendara motor melintas tanpa menyalakan lampu kendaraannya, Minggu (7/12) sekira pukul 20.00 WIT. Warga yang di lokasi kemudian meneriaki yang bersangkutan.

“Orang tersebut mengancam masyarakat yang ada di situ. Dia kemudian kembali lagi membawa sekitar delapan orang rekannya. Terjadilah baku pukul dengan kurang lebih lima orang yang ada di situ,” ucapnya.

Dikatakan, ketika terjadi perkelehian, terdengar suara tembakan. Namun ia tak bisa memastikan siapa yang mengeluarkan tembakan. Pada Senin (8/12) sekira pukul 02.30 WIT, terjadi kebakaran di Kantor KPU Paniai. Meski api bisa dipadamkan, namun kerusakan cukup banyak.

“Senin (8/12) sekitar pukul 08.00 WIT warga memalang kantor KPU yang terbakar. Polisi lalu bernegosiasi untuk membuka palang. Namun ketika sedang bernegosiasi, terdengar rentetan tembakan dari arah gunung. Tidak diketahui siapa yang mengeluarkan tembakan,” ucapnya.

Dikatakan, pasca suara tembakan itu, ratusan masyarakat dari arah gunung menyerang Koramil Enarotali. Tiga anggota TNI yang berjaga di Koramil setempat mengalami luka akibat lemparan batu dan terkena panah. Namun belum diketahui identitas korban.

“Usai menyerang markas Koramil, massa kemudian menuju markas Polsek Kota Paniai Timur, yang berjarak kurang lebih 200 meter dari Koramil. Tiga anggota Polsek juga mengalami luka parah. Aparat yang terluka di markas Polsek dan Koramil sampai kini belum dievakuasi, karena belum bisa tembus. Massa menguasai lokasi,” katanya.

Katanya, kini polisi menyelidiki siapa aktor di balik pembakaran kantor KPU, dan penyerangan Koramil dan Polsek setempat. Ia menduga ada dalang utama di balik itu. Pudjo juga meminta warga dan aparat TNI serta Polri di Paniai menahan diri dan tidak terprovokasi.

“Insiden Paniai merupakan bentuk provokasi yang direncanakan orang tak bertanggung jawab. Namun kami belum bisa pastikan siapa orang tersebut. Masih diselidiki. Situasi di sana masih mencekam,” ucapnya.

Sementara salah satu aktivis HAM Papua, Yohanes Douw mengatakan, korban tewas berjumlah lima orang yakni Habakuk Degei, Bertus Gobay, Neles Gobay, Yopianus Gobay dan Yulianus Yeimo. Ia menduga, pelaku penembakan adalah aparat gabungan TNI/Polri. Namun ini hanyalah dugaan dan ia belum bisa memastikan para pelaku penyebab tewasnya warga Paniai tersebut, karena memang di wilayah ini juga terdapat kelompok bersenjata.

“Penembakan terjadi di depan lapangan Soeharto Enarotali. Luka tembak di perut. Peluru masih dalam tubuh. Ada 22 korban luka ringan yang kakinya tertembus peluru,” kata Douw via teleponnya, Senin (8/12).

Hingga kini informasi yang beredar di masyarakat dan awak media masih simpang siur. Belum ada infomasi pasti jumlah korban tewas dan luka serta penyebab awal terjadinya rusuh itu. Sejumlah pihak memberikan informasi dan data yang berbeda sesuai versi mereka. (red)

PANIAI RUSUH DAN WARGA TEWAS TERTEMBAK

Wadir Intelkam Polda dan Asintel Kodam/XVII Cenderawasih tiba di Paniai
Bupati Paniai datang menenangkan massa yang terprovokasi OTK (red)

Paniai - Situasi keamanan di kota Enarotali, Paniai, Papua memanas. 4 Warga tertembak dan 13 luka berat dirawat di RSUD Madi, Enarotali.

Pihak Polda Papua melalui Kabid Humasnya membenarkan hal tersebut. Pudjo menjelaskan, kejadian bermula saat seseorang berkendara tanpa lampu, Minggu (7/12) malam. Ia ditegur warga dan marah. Tak lama berselang, orang itu datang bersama teman-temannya dan berkelahi dengan masyarakat.

"Di lokasi tersebut sempat terjadi penembakan 3 kali oleh kelompok yang baru datang," jelas Pudjo.

Peristiwa itu berlanjut pada pukul 02.30 WIT. KPUD Paniai dibakar oleh sekelompok massa. Pelaku belum diketahui. Pagi harinya, terdengar rentetan tembakan. Anggota polisi yang berjaga di sekitar lokasi, mundur ke Polsek dan Polres. Ratusan orang kemudian menyerbu Koramil Paniai dan Polsek Paniai Timur.

"Saat terjadi hujan batu dan panah. 3 anggota Polsek luka dan 3 anggota Koramil luka 3 mobil masyarakat dan 1 mobil TNI rusak berat, kaca-kaca Polsek dan Koramil hancur," kata Pudjo. 

Dari informasi yang disampaikan Ketua LMA Paniai, Jhon Gobay, kejadian itu berimbas dari pemukulan 1 warga sipil oleh OTK hingga pingsan pada malam harinya. Kemudian pagi harinya sekitar pukul 10.00 Wit, ratusan orang menyerang Polsek setempat.

"Saat itulah terjadi penembakan terhadap 4 warga sipil oleh OTK, yakni Habakuk Degei, Neles Gobay, Bertus Gobai, dan Apinus Gobai tewas. Penembak tidak kita ketahui karena berasal dari Gunung Merah. 13 orang yang terluka sekarang masih dalam RSUD Paniai," kata Jhon Gobay. (red)

TIMSUS GABUNGAN TNI/POLRI TEMUKAN KEMBALI PISTOL TNI AU


Jumpa Pers perwakilan TNI/Polri oleh Kabid Humas Polda (red)
Jayapura - Tim Khusus (Timsus) Gabungan TNI/Polri di Papua, telah menemukan kembali tiga pucuk senjata api jenis pistol milik TNI AU yang hilang di kawasan wisata Gunung Cycloop, Kali Kemiri, Sentani, Kabupaten Jayapura. 

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pudjo, Selasa (09/11), mengatakan bahwa senjata api milik anggota TNI AU itu diambil Yopi Gombo (20 thn) pada 15 November lalu, saat ketiga anggota TNI-AU sedang berekreasi. Selanjutnya senpi tersebut diserahkan tersangka kepada Yoam Gombo (55 thn).

"Saat berekreasi, senjata api laras pendek jenis pistol yang disimpan di dalam tas ditaruh di atas batu, namun tak beberapa lama kemudian tas beserta isinya hilang," kata Kombes Pudjo. 

Dikatakan, ketiga senpi itu milik anggota satuan tugas (Satgas) yang bertugas di Lanud Jayapura di Sentani. Selain menangkap pelaku pencuri tas berisi Senpi milik anggota TNI AU, polisi juga menangkap empat orang yang menerima Handphone hasil curian Gombo. 

"Saat ini tersangka bersama barang bukti sudah diamankan di Mapolda Papua," terang Kombes Pudjo. 

Sebelumnya ada laporan kasus hilangnya tiga pucuk senjata api milik anggota TNI AU diduga dicuri orang tak dikenal saat berada di kawasan Permandian Cycloop, Sentani. 

Tiga pucuk senpi laras pendek itu dilaporkan hilang, Sabtu (15/11) bersama telepon genggam milik anggota TNI AU yang disimpan di dalam tiga buah tas berbeda. Hilangnya ketiga pucuk senpi itu berawal saat tiga anggota TNI-AU yang berasal dari Skuadron Udara 4 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, berkunjung ke lokasi pemandian di kawasan Gunung Cycloop. 

Saat berfoto tanpa disadari tas yang berisi tiga pucuk senjata dan berbagai barang pribadi ketiga anggota yakni Lettu Pnb YG, Kapten Pnb DM dan Lettu CD hilang. (red)

Sejumlah barang bukti yang digelar

Selasa, 02 Desember 2014

ADA APA DENGAN 1 DESEMBER?

Perayaan 1 Desember di Vanuatu hanya dihadiri puluhan orang (red)
Jayapura - Tanggal 1 Desember oleh sebagian orang di Papua diganggap sebagai hari yang sakral sebagai hari ulang tahun. Kegiatan diadakan untuk memperingatinya, meski secara tertutup. Bahkan kegiatan tersebut dilakukan dalam bentuk kampanye Papua Barat di negara Vanuatu.

Sementara dalam wawancara dengan bbc.co.uk, Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi mengatakan, pemerintah Indonesia tidak khawatir dengan kampanye-kampanye untuk memisahkan Papua dari Indonesia tersebut.

“Apa yang dilakukan mereka adalah apa yang biasa mereka lakukan setiap tahun. Kadang-kadang apa yang mereka lakukan misalnya seperti sesuatu yang sangat besar, tapi sebenarnya tidak.”

Hal ini ditegaskan pula oleh Menlu RI bahwa kegiatan yang dilakukan oleh segelintir orang tersebut tidaklah sebesar yang mereka gambarkan.

“Saya berada di KBRI Den Haag sebelumnya, jadi saya bisa memantau dari dekat. Gerakan-gerakan yang mereka lakukan sebenarnya tidak sebesar apa yang mereka gambarkan." 

Pemerintah RI disebutkan oleh Menlu saat ini fokus dalam hal pembangunan di Papua dan mengharapkan kerja sama seluruh masyarakat Papua dalam memajukan Papua.

"Sementara itu apa yang dilakukan pemerintah Indonesia lebih terfokus pada pembangunan di Papua. Papua adalah bagian dari Indonesia. Orang Papua adalah bagian dari bangsa Indonesia,” kata Menlu. (red)




Kamis, 27 November 2014

KAPOLDA DAN PANGDAM ULTIMATUM PENGIBAR BINTANG KEJORA

foto: Cepos
Jayapura - Adanya anggapan sebagian kecil masyarakat yang mengatakan bahwa 1 Desember adalah hari lahirnya Organisasi Papua Merdeka (OPM) dibantah oleh Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua Irjen Pol. Drs. Yotje Mende,SH,M.Hum. Bukan hanya membantah, Kapolda bahkan mengultimatum organisasi ini untuk tidak macam-macam, apalagi sampai berani mengibarkan bendera Bintang Kejora di wilayah Indonesia.

“Tidak ada hari ulang tahun itu karena itu (OPM,red) adalah organisasi terlarang di Indonesia. Saya sudah instruksikan seluruh jajaran saya, jika ada bendera Bintang Kejora, maka harus ditindak tegas karena itu tidak benar. Kita adalah NKRI, mereka menggemborkan adanya OPM, itu saya anggap tidak ada,” tegas Kapolda saat ditemui usai memimpin Gelar Pasukan Operasi Zebra di Mapolda Papua, Rabu (26/11).

Kapolda menyatakan jika memang benar ada kelompok bersenjata yang kemudian berani mengibarkan bendera itu, maka akan dihadapi oleh kepolisian dengan bersenjata. 

Mengenai daerah rawan, Kapolda bisa memprediksi tapi tidak bisa memastikan mana saja daerah rawan tersebut. Namun yang jelas, pihaknya sudah menginstruksikan kepada seluruh jajaran untuk menangkap orang yang mengibarkan bendera Bintang Kejora dan akan dikenai pasal makar.

“Kita tidak bilang mereka itu separatis, tetapi mereka adalah kelompok kriminal bersenjata. Jadi itu saja. Tidak boleh ada pengibaran bendera Bintang Kejora. Mereka yang mengibarkan itu berarti makar. Makar itu dilarang oleh undang-undang dengan ancaman hukuman 10 tahun ke atas, kita akan tegakkan,” tegasnya lagi.

Kapolda menjelaskan bahwa dirinya sudah berkoordinasi dengan satuan samping, yaitu TNI, untuk penindakan tegas tersebut. Dicontohkannya, kelompok KNPB di Dogiyai yang ingin melakukan ulang tahun itu tidak ada karena KNPB tidak diakui. Maka dari itu, dihadapi oleh kepolisian dengan kekuatan pasukan. Jika ada anggotanya yang salah bertindak, juga akan ditindak tegas.

“Kita sudah ada penambahan pasukan di beberapa titik, Brimob sudah kita tambah di perbatasan sebanyak 3 SSK, kemudian dari TNI sendiri sudah ada penambahan batalyon. Karena kalau ada dari PNG masuk ke Indonesia untuk merayakan hal itu maka kita akan tegas, tidak boleh,” ucapnya.

Panglima Kodam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Fransen G Siahaan sendiri juga mengatakan hal yang sama. Bahwa seluruh Papua dilihatnya masih dalam situasi kondusif. Bahkan pihaknya juga telah menggelar pasukannya di daerah pegunungan dengan kewaspadaan penuh. Pangdam menjawab dengan jelas, bahwa jika OPM menyakiti hati rakyat maka akan ditindak secara hukum.

Termasuk tanggal 1 Desember yang biasanya menimbulkan gejolak di Papua, juga ditanggapi dengan santai oleh Pangdam. Meski demikian, Pangdam sejalan dengan Kapolda bahwa jika pihaknya diminta bantuan oleh kepolisian untuk menindak tegas pengibar Bintang Kejora, maka TNI siap sedia.

“Polisi di sini yang dikedepankan, kalau minta bantuan TNI maka kita siap. Sampai saat ini tidak ada indikasi gejolak-gejolak, peningkatan kewaspadaan juga tetap ada terutama mengenai protap-protapnya, patroli, keamanan senjata, termasuk kalau bergerak minimal tiga orang,” tegasnya.

Sementara itu, Wali Kota Jayapura Dr. Benhur Tommy Mano, MM didampingi sejumlah pimpinan SKPD bersama dengan Kapolres Jayapura Kota AKBP Alfred Papare,SIK, Dandim 1701 Jayapura, Letkol Inf. Yoyok Pranowo dan Danyon 623/BWU Letkol Inf. Singgih Pambudi Ariyanto, S.IP menyambangi perbatasan RI- PNG. 

Kunjungan ini dalam rangka mengecek keamanan dan ketertiban di daerah Perbatasan Jelang 1 Desember 2014, yang mana 1 Desember tidak boleh ada Bintang Kejora yang berkibar di Kota Jayapura.
Wali Kota Jayapura Dr. Benhur Tommy Mano,MM mengungkapkan bahwa kunjungan yang dilakukan pihaknya ke perbatasan RI-PNG ini dalam rangka mengecek kamtibmas di daerah perbatasan yang merupakan garda terdepan Pemerintah RI sehingga pihaknya turun langsung untuk mengecek kondisi terkini untuk memastikan Kota Jayapura aman dan tidak aktivitas menaikan bendera Bintang Kejora pada 1 Desember 2014.

”Saya bersama Pak Kapolres dan Dandim berkomitmen untuk menjaga wilayah kota ini tidak boleh ada yang menganggu. Oleh sebab itu kami bertiga mengharapkan dukungan berbagai pihak untuk membantu kami memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat Kota Jayapura,” ungkapnya di sela-sela kunjungan ke daerah perbatasan RI-PNG, Rabu (26/11).

Pihaknya berkomitmen untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat Kota Jayapura baik yang ada di daerah kota maupun hingga Muara Tami serta daerah perbatasan RI-PNG. 

”Warga kota harus aman oleh karena itu kami menghimbau agar tanggal 1 Desember 2014 tidak ada kenaikan bendera Bintang Kejora karena warga kota harus aman dalam melaksanakan tugas dan tangung jawab masing-masing sesuai dengan apa yang dikerjakan,” katanya.

Menjelang Natal yang kian dekat, Wali Kota Tommy Mano mengajak masyarakat Kota Jayapura untuk menyiapkan diri dengan baik untuk menyambut kelahiran putra Natal. ”Kami mengajak semua masyarakat kota dari berbagai elemen masyarakat untuk bersama-sama mengambil bagian dalam pencanangan Kota Jayapura menyambut Natal yang dilaksanakan Pemkot Jayapura pada Senin (1/12),” pungkasnya.

Sementara itu, Danyon 623/BWU Letkol Inf. Singgih Pambudi Ariyanto, S.IP dalam penjelasan kepada rombongan Wali Kota dan Muspida menjelaskan bahwa dalam 4 bulan terakhir ini kondisi perbatasan kondusif, di mana untuk pasar perbatasan sendiri telah beroperasi kembali walau 2 kali dalam seminggu, namun antusiasme warga yang berkunjung meningkat terutama warga Negara Papua New Guinea (PNG).

Sumber: Cenderawasih Pos

Selasa, 18 November 2014

HUT KNPB Ke-6

Komite Nasional Papua Barat (KNPB) pada hari ini merayakan HUT-nya yang ke-6. Banyak kegiatan yang dilakukan oleh organisasi ini untuk merayakannya namun untuk kalangan terbatas bagi anggota dan simpatisan saja. Kegiatan salah satunya ialah dengan melakukan provokasi serta unjuk rasa di tiap-tiap daerah di Papua. Hal ini seperti yang telah diinstruksikan serempak oleh Ketua I KNPB, Agust Kossay. Namun, di beberapa tempat tertentu ada pula perayaan dibalut dengan kemasan ibadah syukur, yang tetap menampilkan berbagai simbol dan lambang berbau makar.

Memprovokasi masyarakat melalui HUT dengan simbol bintang kejora

Tema yang diusung oleh KNPB dalam HUT-nya kali ini adalah “LAWAN”, di mana dalam pengertian mereka bahwa kita harus melawan semua semua bentuk penjajahan. Dalam kemajuan dan pembangunan di tanah Papua saat ini, tetap mereka anggap sebagai penjajahan. Pilihan untuk tidak terlibat dalam pemerintahan serta menolak semua produk-produk Pemerintah yang mensejahterakan rakyat, adalah ciri khas organisasi ini. Maka sudah barang tentu mereka menolak pembangunan jalan, sekolah, rumah sakit, dan kemudian menyalahkan Pemerintah karena membiarkan masyarakat hidup dalam kemiskinan.
Dalam Ibadah Syukur yang notabene merupakan ibadah sakral persekutuan dengan Sang Ilahi, justru dipakai sebagai alat menanamkan benih kebencian, agitasi, dan perlawanan terhadap NKRI yang sah.
HUT dibalut Kemasan Ibadah, namun penuh kebencian dengan tema Lawan

Tema yang diusung tentu sangat provokatif dan membuat warga masyarakat di Papua resah. Provokasi yang terlihat jelas dan paling sensitif oleh KNPB adalah di mana mereka selalu membenturkan masalah ras yang dapat memicu konflik SARA, dan ini sangat bertentangan dengan ideologi negara, yaitu Pancasila yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. 
Papua adalah Indonesia kecil. Di Papua semua suku, agama, ras, dan golongan ada. KNPB jangan kotori kedamaian yang saat ini sudah terjalin indah di Papua.

KNPB sejatinya merupakan organisasi ilegal yang tidak terdaftar berdasarkan UU Keormasan. Organisasi yang berlindung di balik kebebasan berpendapat, namun sendirinya tidak menghormati demokrasi itu sendiri. Hal ini ditandai dengan segala aktivitas yang dilakukan selalu anarkis dan tidak menghormati hak azasi manusia.

Bagi warga masyarakat Papua, mari kita bersama-sama tetap menjaga perdamaian di Tanah Injil ini, karena kedamaian itu yang tetap mempersatukan kita dalam bingkai NKRI. Salam damai bagi warga masyarakat Papua dan mari kita tolak KNPB yang selalu mengatasnamakan rakyat Papua. (red)